Showing posts with label Hiburang. Show all posts
Showing posts with label Hiburang. Show all posts

Kenikmatan Ngeseks dengan Om Perkasa

,
Aku Dina, cerita ini terjadi ketika aku baru masuk SMU, saat itu umurku baru 16tahun. Aku tinggal bersama dengan ke 2 ortu dan adikku di sebuah apartment. Ortu membeli 2 apartmen yang letaknya saling berhadapan di lantai yang sama. Aku dan adikku tinggal di satu apartment dan ortu di apartmen satunya lagi. Ayahku punya seorang kakak angkat yan...g usianya gak jauh diatas ayah. Hubungan keluargaku dengan om itu cukup akrab. om sering berkunjung ke apartmen baik untuk urusan pekerjaan maupun hanya bersilaturahmi. Maklum om dah pisah dari tante, yang telah menikah lagi dengan orang lain, sedang om masih sendiri sejak perpisahannya dengan tante. Om ku ganteng, walaupun usianya sedikit diatas ayahku tapi malah kelihatan lebih muda dari ayahku. Badannya tegap atletis, mungkin karena dia masih rajin melakukan fitness sekali semingu, jogging ampir tiap hari dan juga renang seminggu sekali. Gak seperti ayahku yang udah gendut dan keliatan tua, maklum deh ayah sibuk dengan kerjaannya, workaholik lah orang bilang, sehingga gak sempet ngapa2in. waktu untuk keluarga paling weekend, itupun sering dianggu karena ada pekerjaan yang harus dilakukan ayah. Om sering mengajak kami jalan2, kalo ayah kharus melakukan pekerjaannya. Diam2 aku mengagumi om, kelihatannya macho sekali deh.

Cerita ini terjadi ketika ortu dan adikku harus keluar kota untuk menengok nenekku yang sedang sakit. Aku tidak ikut karena hari ini om akan datang untuk mengambil pesanannya yang dititipkan lewat aya. ayah berpesan untuk menyampaikan pesanan itu kalo om datang ke apartment. Katanya om akan datang sore sekitar magrib. Aku senang juga karena bisa berduaan aja ama om tanpa ada orang lain diapartment yang mengganggu. Sorenya terdengar bel pintu berbunyi. Om mengebel pintu apartmentku karena ayah dah memberi tau kalo mereka keluar kota, tapi pesanan om dititpkan pada aku. Segera aku membuka pintu menyambut om. “Hai cantik”, om selalu menyapa aku seperti itu. Seneng aku dipuji cantik oleh om. “Kok seneng banget kelihatannya”. “Iya om, seneng bisa berduaan ama om”, jawabku terus terang. “Loh kok seneng, kan dah sering jalan ma om”. “Iya tapi kan ramean. duduk om. ini pesenan om yang dititipkan ayah buat om”. Om duduk di sofa.

Memang apartment aku dan adikku lumayan lengkap perabotannya walaupun serba minimalis. Di ruang tamu yang merangkap kamar makan ada seperangkat sofa, tv, audio system, meja makan dan pantri kering. Dapur diubah fungsi sebagai gudang karena makanan disupply dari apartment ortu. “Om jalan yuk”, kataku. “Mo kemana”, tanya om. “Ke mal yuk”. “Mo nyari apa?” “Makan ama liat2 aja. di apartment gak ada makanan. tadi mama pesen supaya aku ngajak om nyari makan diluar aja”. “Emangnya ortu kamu pulangnya kapan. Adikmu mana?” “Adik ikut om, pulangnya besok sore kali”. “Terus kamu takut sendirian, mau om temenin”. Wah itu yang aku harapkan bisa berduaan ama om sampe besok. “Bentar ya om, aku tuker baju dulu”.

Segera aku menghilang kekamarku dan tukar pakean. Aku gak tau, rupanya om ngintip ketika aku tuker pakean. Tapi ya gak tejadi apa2. Kemudian segera aku keluar apartment nersama om. Dengan manjanya aku memeluk tangan om. Kami bermobil ke mal yang deket dengan apartmentku. Sampe malem aku bener2 have fun bersama om, kami cari makan, dan setelah makan om ngajak aku nonton film. Aku ya ok aja, didalem bioskop aku memegangi tangan om terus, perhatianku gak pada filmnya tapi pada sosok pria macho yang duduk disebelah aku. “Tu orang pada ngeliatin kita, mereka kira aku om senang yang lagi gaet abg cantik”, kata om ketika keluar dari bioskop. “Kamu manja amat sih”. “Biarin aja”, jawabku. “Mo kemana lagi nih”. “Pulang yuk om”. “ayuk”. Kami menuju ke tempat parkir dan langsung kembali ke apartment. Segera mobil meluncur kembali ke apartment, gak lama karena apartment dekat dengan mal.

Sesampe di apartment aku segera tuker dengan pakean rumah lagi. aku kalo dirumah memang gak memakai bra. Aku hanya memakai tanktop ketat sepinggang dan celana pendek yang juga ketat. kedua pentilku tampak jelas sekali tercetak di tanktopku. Si om terpana melihat lekak liku bodiku yang memang mengundang selera lelaki yang melihatnya. “Kamu beneran mo om temenin”. “Kalo om gak keberatan”. “Tapi om gak bawa baju ganti”. “Nanti aku ambilin celana kolor dan baju kaos ayah”. Segera aku keluar apartment, membuka apartment ortu dan masuk ke kamar ortu untuk mengambil celana kolor dan kaos oblong ayah. “Kegedean kali ya om, ayah kan gendut”, kataku sembari menyerahkan pakean itu ke om. “Gak apa, kan cuma buat bobo”. Si om masuk ke kamarku, ketika keluar kamar hanya memakai celana kolor gombrang dan kaos yang rada kebesaran. Kelihatannya dia tidak mengenakan CD karena kontolnya kelihatan jelas tercetak di celana gombrangnya, kayanya dah ngaceng deh. Mungkin dia napsu ngeliat bodiku. Om duduk di sofa nonton tv. Aku duduk disebelahnya. “Din kamu seksi sekali. toket kamu besar juga ya, pasti cowok kamu suka ya, suka diremes2 ya Din ma cowok kamu”. “Ih om tau aja”. “Iya tau lah Din, om kan juga lelaki. Lelaki mana yan gak suka ngeremes toket montok seperti toketmu itu”. “Om suka ngeremes juga ya, terus om ngeremes siapa, kan gak ada tante”.

Om cuma tersenyum, “Kamu mau gak om remes”. “Ih om genit ih”. “Kamu suka nonton film bokep ya Din”. “Iya om ma cowok Dina”. “Dimana nontonnya?” “Dirumah cowok Dina, dia kan sering sendirian di rumahnya, ortunya sering pergi dua2nya, katanya berbisnis”. Terus, diremes deh”. “Iya om, abis nonton film gituan kan napsu juga”. “Cuma diremes?” “he he”, aku hanya tertawa. “Kamu dah sering maen ma cowok kamu ya Din”. “Gak sering om, cuma ampir tiap malem minggu”. “Itu mah sering”, kata om sambil merangkul pundakku. Aku merinding ketika om menarikku merapat kebadannya. Dia mencium pipiku. “Om bawa film bokep, yang maen orang indonesia ma bule. mo liat?’ “Mau om, biasanya aku nonton kalo gak bule, ya cina apa jepun”. Si om mengambil dvd dari tas yang dibawanya tdi dan dipasangnya. Segera filmpun mulai. Ceweknya orang sini, togepasar lah, jembutnya juga lebat, sedang si bule krempeng, tapi kontolnya gede en panjang banget. Biasalah ritual film bokep saling isep sampe akhirnya si bule naikin tu prempuan dan masuk deh. serenade ah uh dimulai.

Si om rupanya sudah dibawah pengaruh napsu berahinya. Dia menatapku dengan pandangan yang seakan2 mau menelanjangiku. Segera dia mencium bibirku, aku menyambutnya. Lidah kami saling melilit dan kemudian dijulurkan lidahnya kedalam mulutku. Segera kuemut lidahnya, kemudian ganti aku yang menjulurkan lidahku ke mulutnya. Diapun tidak menyia2kan kesempatan untuk segera memerah kedua toketku gantian. “Din, om dah lama pengen ngeremes toket kamu”. Pentilku yang dah mulai mengeras dipilin2 dari luar tanktopku. “Dilepas ya Din tanktopnya”, katanya seraya menarik tanktopku keatas. Dvd dimatikannya karena kami sudah tidak lagi memperhatikan perilaku ke2 anak manusia yang berlainan jenis sedang beraksi di film itu. Toketku sudah telanjang dihadapannya. Dia segera meremas2 toketku. “Baru 16 dah besar gini Din toket kamu, kenceng lagi, om mau ngasi kenikmatan sama kamu, mau kan”, katanya perlahan sambil mencium toket ku yang montok. “.

Aku diam saja, mataku terpejam. Dia mengendus-endus kedua toketku yang berbau harum sambil sesekali mengecupkan bibir dan menjilatkan lidahnya. pentil toket kananku dilahap ke dalam mulutnya. Badanku sedikit tersentak ketika pentil itu digencet perlahan dengan menggunakan lidah dan gigi atasnya. “Om…”, rintihku, tindakannya membangkitkan napsuku juga. Aku menjadi sangat ingin merasakan kenikmatan dientot, sehingga aku diam saja membiarkan dia menjelajahi tubuhku. Disedot-sedotnya pentil toketku secara berirama. Mula-mula lemah, lama-lama agak diperkuat sedotannya. Diperbesar daerah lahapan bibirnya. Kini pentil dan toket sekitarnya yang berwarna kecoklatan itu semua masuk ke dalam mulutnya. Kembali disedotnya daerah tersebut dari lemah-lembut menjadi agak kuat. Mimik wajahku tampak sedikit berubah, seolah menahan suatu kenikmatan.

Kedua toketku yang harum itu diciumi dan disedot-sedot secara berirama. Dibenamkannya wajahnya di antara kedua belah gumpalan dada ku. Perlahan-lahan dia bergerak ke arah bawah. Digesek-gesekkan wajahnya di lekukan tubuhku yang merupakan batas antara gumpalan toket dan kulit perutku. Kiri dan kanan diciumi dan dijilatinya secara bergantian. Kecupan-kecupan bibir, jilatan-jilatan lidah, dan endusan-endusan hidungnya pun beralih ke perut dan pinggangku. Bibir dan lidahnya menyusuri perut sekeliling pusarku yang putih mulus. Wajahnya bergerak lebih ke bawah. Dengan nafsu yang menggelora dia memeluk pinggulku secara perlahan-lahan. Celana pendekku ditariknya kebawah, aku mengangkat pantatku supaya lebih mudah dia melepaskan celanaku.

Kecupannya pun berpindah ke CD tipis yang membungkus pinggulku. Ditelusurinya pertemuan antara kulit perut dan CD, ke arah pangkal paha. Dijilatnya helaian-helaian rambut jembutku yang keluar dari CDku. “Din, jembut kamu lebat banget ya, pantes kamu napsunya besar”. Lalu diendus dan dijilatnya CD pink itu di bagian belahan bibir nonokku. Aku makin terengah menahan napsuku, sesekali aku melenguh menahan kenikmatan yang kurasakan. Dia melepaskan semua yang nempel dibadannya sehingga bertelanjang bulat. Aku terkejut melihat kontolnya yang begitu besar dan panjang dalam keadaan sangat tegang. Napsuku bangkit juga melihat kontolnya, timbul hasratku untuk merasakan bagaimana nikmatnya kalo kontol besar itu menggesek keluar masuk nonokku.

Dia bangkit. Dengan posisi berdiri di atas lutut dikangkanginya tubuhku. kontolnya yang tegang ditempelkan di kulit toketku. Kepala kontol digesek-gesekkan di toketku yang montok itu. Sambil mengocok batangnya dengan tangan kanannya, kepala kontolnya terus digesekkan di toketku, kiri dan kanan. Setelah sekitar dua menit dia melakukan hal itu. Diraih kedua belah gumpalan toketku yang montok itu. Dia berdiri di atas lutut dengan mengangkangi pinggang ramping ku dengan posisi badan sedikit membungkuk. kontolnya dijepitnya dengan kedua gumpalan toketku. Perlahan-lahan digerakkannya maju-mundur kontolnya di cekikan kedua toket ku. Di kala maju, kepala kontolnya terlihat mencapai pangkal leherku yang jenjang. Di kala mundur, kepala kontolnya tersembunyi di jepitan toketku. Lama-lama gerak maju-mundur kontolnya bertambah cepat, dan kedua toketku ditekannya semakin keras dengan telapak tangannya agar jepitan di kontolnya semakin kuat.

Dia pun merem melek menikmati enaknya jepitan toketku. Akupun mendesah-desah tertahan, “Ah… hhh… hhh… ah…” kontolnya pun mulai melelehkan sedikit cairan. Cairan tersebut membasahi belahan toketku. Gerakan maju-mundur kontolnya di dadaku yang diimbangi dengan tekanan-tekanan dan remasan-remasan tangannya di kedua toketnya, menyebabkan cairan itu menjadi teroles rata di sepanjang belahan dadaku yang menjepit kontolnya. Cairan tersebut menjadi pelumas yang memperlancar maju-mundurnya kontolnya di dalam jepitan toketku. Dengan adanya sedikit cairan dari kontolnya tersebut dia terlihat merasakan keenakan dan kehangatan yang luar biasa pada gesekan-gesekan batang dan kepala kontolnya dengan toketku.

“Hih… hhh…… Luar biasa enaknya…,” dia tak kuasa menahan rasa enak yang tak terperi. Nafasku menjadi tidak teratur. Desahan-desahan keluar dari bibirku , yang kadang diseling desahan lewat hidungku, “Ngh… ngh… hhh… heh… eh… ngh…” Desahan-desahanku semakin membuat nafsunya makin memuncak. Gesekan-gesekan maju-mundurnya kontolnya di jepitan toketku semakin cepat. kontolnya semakin tegang dan keras. “Enak sekali, Din”, erangnya tak tertahankan. Dia menggerakkan kontolnya maju-mundur di jepitan toketku dengan semakin cepat. Alis mataku bergerak naik turun seiring dengan desah-desah perlahan bibirku akibat tekanan-tekanan, remasan-remasan, dan kocokan-kocokan di toketku. Ada sekitar lima menit dia menikmati rasa keenakan luar biasa di jepitan toketku itu.

Toket sebelah kanan dilepas dari telapak tangannya. Tangan kanannya lalu membimbing kontol dan menggesek-gesekkan kepala kontol dengan gerakan memutar di kulit toketku yang halus mulus. Sambil jari-jari tangan kirinya terus meremas toket kiriku, kontolnya digerakkan memutar-mutar menuju ke bawah. Ke arah perut. Dan di sekitar pusarku, kepala kontolnya digesekkan memutar di kulit perutku yang putih mulus, sambil sesekali disodokkan perlahan di lobang pusarku. Dicopotnya CD minimku. Pinggulku yang melebar itu tidak berpenutup lagi. Kulit perutku yang semula tertutup CD tampak jelas sekali. Licin, putih, dan amat mulus.

Di bawah perutku, jembutku yang hitam lebat menutupi daerah sekitar nonokku. Kedua paha mulusku direnggangkannya lebih lebar. Kini hutan lebat di bawah perutku terkuak, mempertontonkan nonokku. Dia pun mengambil posisi agar kontolnya dapat mencapai nonokku dengan mudahnya. Dengan tangan kanan memegang kontol, kepalanya digesek-gesekkannya ke jembutku. Kepala kontolnya bergerak menyusuri jembut menuju ke nonokku. Digesek-gesekkan kepala kontol ke sekeliling bibir nonokku. Terasa geli dan nikmat. Kepala kontol digesekkan agak ke arah nonokku. Dan menusuk sedikit ke dalam. Lama-lama dinding mulut nonokku menjadi basah. Digetarkan perlahan-lahan kontolnya sambil terus memasuki nonokku.

Kini seluruh kepala kontolnya yang berhelm pink tebenam dalam jepitan mulut nonokku. Kembali dari mulutku keluar desisan kecil karena nikmat tak terperi. Kontolnya semakin tegang. Sementara dinding mulut nonokku terasa semakin basah. Perlahan-lahan kontolnya ditusukkan lebih ke dalam. Kini tinggal separuh kontol yang tersisa di luar. Secara perlahan dimasukkan kontolnya ke dalam nonokku. Terbenam sudah seluruh kontolnya di dalam nonokku. Sekujur kontol sekarang dijepit oleh nonokku . Secara perlahan-lahan digerakkan keluar-masuk kontolnya ke dalam nonokku. Sewaktu keluar, yang tersisa di dalam nonokku hanya kepalanya saja. Sewaktu masuk seluruh kontol terbenam di dalam nonokku sampai batas pangkalnya.

Dia terus memasuk-keluarkan kontolnya ke lobang nonokku. Alis mataku terangkat naik setiap kali kontolnya menusuk masuk nonokku secara perlahan. Bibir segarku yang sensual sedikit terbuka, sedang gigiku terkatup rapat. Dari mulut sexy ku keluar desis kenikmatan, “Sssh…sssh… hhh… hhh… ssh… sssh…” Dia terus mengocok perlahan-lahan nonokku. Enam menit sudah hal itu berlangsung. Kembali dikocoknya secara perlahan nonokku sampai selama dua menit. Kembali ditariknya kontolnya dari nonokku.

Namun tidak seluruhnya, kepala kontol masih dibiarkannya tertanam dalam nonokku. Sementara kontol dikocoknya dengan jari-jari tangan kanannya dengan cepat Rasa enak itu agaknya kurasakan pula. Aku mendesah-desah akibat sentuhan-sentuhan getar kepala kontolnya pada dinding mulut nonokku, “Sssh… sssh… zzz…ah… ah… hhh…” Tiga menit kemudian dimasukkannya lagi seluruh kontolnya ke dalam nonokku. Dan dikocoknya perlahan. Sampai kira-kira empat menit. Lama-lama dia mempercepat gerakan keluar-masuk kontolnya pada nonokku. Sambil tertahan-tahan, dia mendesis-desis, “Din… nonokmu luar biasa… nikmatnya…” Gerakan keluar-masuk secara cepat itu berlangsung sampai sekitar empat menit.

Tiba-tiba dicopotnya kontol dari nonokku. Segera dia berdiri dengan lutut mengangkangi tubuhku agar kontolnya mudah mencapai toketku. Kembali diraihnya kedua belah toket montok ku untuk menjepit kontolnya yang berdiri dengan amat gagahnya. Agar kontolnya dapat terjepit dengan enaknya, dia agak merundukkan badannya. Kontol dikocoknya maju-mundur di dalam jepitan toketku. Cairan nonokku yang membasahi kontolnya kini merupakan pelumas pada gesekan-gesekan kontolnya dan kulit toketku. “Oh…hangatnya… Sssh… nikmatnya…Tubuhmu luarrr biasa…”, dia merintih-rintih keenakan.

Aku juga mendesis-desis keenakan, “Sssh.. sssh… sssh…” Gigiku tertutup rapat. Alis mataku bergerak ke atas ke bawah. Dia mempercepat maju-mundurnya kontolnya. Dia memperkuat tekanan pada toketku agar kontolnya terjepit lebih kuat. Karena basah oleh cairan nonokku, kepala kontolnya tampak amat mengkilat di saat melongok dari jepitan toketku. Leher kontol yang berwarna coklat tua dan helm kontol yang berwarna pink itu menari-nari di jepitan toketku. Semakin dipercepat kocokan kontolnya pada toketku. Tiga menit sudah kocokan hebat kontolnya di toket montok ku berlangsung. Dia makin cepat mengocokkan kontol di kempitan toket indah ku. Akhirnya dia tak kuasa lagi membendung jebolnya tanggul pertahanannya. “Din..!” pekiknya dengan tidak tertahankan. Matanya membeliak-beliak. Jebollah pertahanannya. Kontolnya menyemburkan peju. Crot! Crot! Crot! Crot!

Pejunya menyemprot dengan derasnya. Sampai empat kali. Kuat sekali semprotannya, sampai menghantam rahangku. Peju tersebut berwarna putih dan kelihatan sangat kental. Dari rahang peju mengalir turun ke arah leherku. Peju yang tersisa di dalam kontolnya pun menyusul keluar dalam tiga semprotan. Cret! Cret! Cret! Kali ini semprotannya lemah. Semprotan awal hanya sampai pangkal leherku, sedang yang terakhir hanya jatuh di atas belahan toketku. Dia menikmati akhir-akhir kenikmatan. “Luar biasa…Din, nikmat sekali tubuhmu…,” dia bergumam. “Kok gak dikeluarin di dalem aja om”, kataku lirih. “Gak apa kalo om ngecret didalem Din”, jawabnya. “Gak apa om, biasanya cowokku juga ngecret didalem kok om. Tapi belum dientot juga aku ngerasa nikmat sekali om”, kataku lagi. “Ini baru ronde pertama Din, mau lagi kan ronde kedua”, katanya. “Mau om, tapi ngecretnya didalem ya”, jawabku. “Kok tadi kamu diem aja Din”, katanya lagi. “Bingung om, tapi nikmat”, jawabku sambil tersenyum.

“Engh…” aku menggeliatkan badanku. Dia segera mengelap kontol dengan tissue yang ada di atas meja, dan mengelap peju yang berleleran di rahang, leher, dan toketku. Ada yang tidak dapat dilap, yakni cairan peju yang sudah terlajur jatuh di rambut ku. “Mo kemana om”, tanyaku. “Mo ambil minum dulu”, jawabnya. Dia kembali membawa gelas berisi air putih, diberikannya kepada ku yang langsung kutenggak sampe habis. Dia kembali lagi untuk mengisi gelas dengan air. Masih tidak puas dia memandangi toket indahku yang terhampar di depan matanya. Dia memandang ke arah pinggangku yang ramping dan pinggulku yang melebar indah. Terus tatapannya jatuh ke nonokku yang dikelilingi oleh jembut hitam jang lebat. Aku ingin mengulangi permainan tadi, digeluti, didekap kuat. Mengocok nonokku dengan kontolnya dengan irama yang menghentak-hentak kuat. Dan dia dapat menyemprotkan pejunya di dalam nonokku sambil merengkuh kuat-kuat tubuhnya saat aku nyampe. Nafsuku terbakar. Aku diajaknya kekamar. Aku berbaring diranjang dan dia disebelahku.

“Din…,” desahnya penuh nafsu. Bibirnya pun menggeluti bibirku. Bibir sensualku yang menantang itu dilumat-lumat dengan ganasnya. Sementara aku pun tidak mau kalah. Bibirku pun menyerang bibirnya dengan dahsyatnya, seakan tidak mau kedahuluan oleh lumatan bibirnya. Kedua tangannyapun menyusup diantara lenganku. Tubuhku sekarang berada dalam dekapannya. Dia mempererat dekapannya, sementara aku pun mempererat pelukanku pada dirinya. Kehangatan tubuhnya terasa merembes ke badanku, toketku yang membusung terasa semakin menekan dadanya. Aku meremas-remas kulit punggungnya. Aku mencopot celananya dan merangkul punggungnya lagi. Dia kembali mendekap erat tubuhku sambil melumat kembali bibirku. Dia terus mendekap tubuhku sambil saling melumat bibir. Sementara tangan kami saling meremas-remas kulit punggung.

Kehangatan menyertai tubuh bagian depan kami yang saling menempel. Kini kurasakan toketku yang montok menekan ke dadanya. Dan ketika saling sedikit bergeseran, pentilku seolah-olah menggelitiki dadanya. Kontolnya terasa hangat dan mengeras. Tangan kirinya pun turun ke arah perbatasan pinggang ramping dan pinggul besar ku, menekannya kuat-kuat dari belakang ke arah perutnya. Kontolnya tergencet diantara perut bawahku dan perut bawahnya. Sementara bibirnya bergerak ke arah leherku, diciumi, dihisap-hisap dengan hidungnya, dan dijilati dengan lidahnya. “Ah… geli… geli…,” desahku sambil menengadahkan kepala, agar seluruh leher sampai daguku terbuka dengan luasnya. Aku pun membusungkan dadaku dan melenturkan pinggangku ke depan. Dengan posisi begitu, walaupun wajahnya dalam keadaan menggeluti leherku, tubuh kami dari dada hingga bawah perut tetap dapat menyatu dengan rapatnya. Tangan kanannya lalu bergerak ke dadaku yang montok, dan meremas-remas toketku dengan perasaan gemas.
Setelah puas menggeluti leherku, wajahnya turun ke arah belahan dadaku.

Dia berdiri dengan agak merunduk. Tangan kirinya pun menyusul tangan kanan, yakni bergerak memegangi toket. Digeluti belahan toketku, sementara kedua tangannya meremas-remas kedua belah toketku sambil menekan-nekankannya ke arah wajahnya. Digesek-gesekkan memutar wajahnya di belahan toketku. Bibirnya bergerak ke atas bukit toket sebelah kiri. Diciuminya bukit toketku, dan dimasukkan pentil toketku ke dalam mulutnya. Kini dia menyedot-sedot pentil toket kiriku. Di ainkan pentilku di dalam mulutnya dengan lidah. Sedotan kadang diperbesar ke puncak bukit toket di sekitar pentil yang berwarna coklat.

“Ah… ah… om…geli…,” aku mendesis-desis sambil menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan. Dia memperkuat sedotannya. Sementara tangannya meremas kuat toket sebelah kanan. Kadang remasan diperkuat dn diperkecil menuju puncak, dan diakhiri dengan tekanan-tekanan kecil jari telunjuk dan ibu jarinya pada pentilku. “Om… hhh… geli… geli… enak… enak… ngilu…ngilu…” Dia semakin gemas. Toketku dimainkan secara bergantian, antara sebelah kiri dan sebelah kanan. Bukit toket kadang disedot sebesar-besarnya dengan tenaga isap sekuat-kuatnya, kadang yang disedot hanya pentilku dan dicepit dengan gigi atas dan lidah. Belahan lain kadang diremas dengan daerah tangkap sebesar-besarnya dengan remasan sekuat-kuatnya, kadang hanya dipijit-pijit dan dipelintir-pelintir kecil pentil yang mencuat gagah di puncaknya. “Ah…om… terus… hzzz…ngilu… ngilu…” aku mendesis-desis keenakan. Mataku kadang terbeliak-beliak. Geliatan tubuhku ke kanan-kiri semakin sering frekuensinya.

Sampai akhirnya aku tidak kuat melayani serangan-serangan awalnya. Jari-jari tangan kananku yang mulus dan lembut menangkap kontolnya yang sudah berdiri dengan gagahnya. “Om.. kontolnya besar ya”, ucapku. Sambil membiarkan mulut, wajah, dan tangannya terus memainkan dan menggeluti kedua belah toketku, jari-jari lentik tangan kananku meremas-remas perlahan kontolnya secara berirama. Dia merengkuh tubuhku dengan gemasnya. Dikecupnya kembali daerah antara telinga dan leherku. Kadang daun telinga sebelah bawahnya dikulum dalam mulutnya dan dimainkan dengan lidahnya. Kadang ciumannya berpindah ke punggung leherku yang jenjang. Dijilati pangkal helaian rambutku yang terjatuh di kulit leherku. Sementara tangannya mendekap dadaku dengan eratnya. Telapak dan jari-jari tangannya meremas-remas kedua belah toketku.

Remasannya kadang sangat kuat, kadang melemah. Sambil telunjuk dan ibu jari tangan kanannya menggencet dan memelintir perlahan pentil toket kiriku, sementara tangan kirinya meremas kuat bukit toket kananku dan bibirnya menyedot kulit mulus pangkal leherku yang bebau harum, kontolnya digesek-gesekkan dan ditekan-tekankan ke perutku. Aku pun menggelinjang ke kiri-kanan. “Ah… om… ngilu… terus om… terus… ah… geli… geli…terus… hhh… enak… enaknya… enak…,” aku merintih-rintih sambil terus berusaha menggeliat ke kiri-kanan dengan berirama sejalan dengan permainan tangannya di toketku.

Akibatnya pinggulku menggial ke kanan-kiri. “Din.. enak sekali Din… sssh… luar biasa… enak sekali…,” diapun mendesis-desis keenakan. “Om keenakan ya? kontol om terasa besar dan keras sekali menekan perut aku. Wow… kontol om terasa hangat di kulit perut aku. Tangan om nakal sekali … ngilu,…,” rintihku. “Jangan mainkan hanya pentilnya saja… geli… remas seluruhnya saja…” aku semakin menggelinjang-gelinjang dalam dekapan eratnya. Aku sudah makin liar saja desahannya, aku sangat menikmati gelutannya, lupa bahwa dia ini om suamiku. “Om.. remasannya kuat sekali… Tangan om nakal sekali..Sssh… sssh… ngilu… ngilu…Ak… kontol om … besar sekali… kuat sekali…”

Aku menarik wajahnya mendekat ke wajahku. Bibirku melumat bibirnya dengan ganasnya. Dia pun tidak mau kalah. Dilumatnya bibirku dengan penuh nafsu yang menggelora, sementara tangannya mendekap tubuhku dengan kuatnya. Kulit punggungku yang teraih oleh telapak tangannya diremas-remas dengan gemasnya. Kemudian dia menindihi tubuhku. Kontolnya terjepit di antara pangkal pahaku dan perutnya bagian bawah. Akhirnya dia tidak sabar lagi. Bibirnya kini berpindah menciumi dagu dan leherku, sementara tangannya membimbing kontolnya untuk mencari nonokku. Diputar-putarkan dulu kepala kontolnya di kelebatan jembut disekitar bibir nonokku. Aku meraih kontolnya yang sudah amat tegang. Pahaku yang mulus itu terbuka agak lebar.

“Om kontolnya besar dan keras sekali” kataku sambil mengarahkan kepala kontolnya ke nonokku. Kepala kontolnya menyentuh bibir nonokku yang sudah basah. Dengan perlahan-lahan dan sambil digetarkan, kontol ditekankan masuk ke kunonok. Kini seluruh kepala kontolnya pun terbenam di dalam nonokku. Dia menghentikan gerak masuk kontolnya. “Om… teruskan masuk… Sssh… enak… jangan berhenti sampai situ saja…,” aku protes atas tindakannya. Namun dia tidak perduli. Dibiarkan kontolnya hanya masuk ke nonokku hanya sebatas kepalanya saja, namun kontolnya digetarkan dengan amplituda kecil. Sementara bibir dan hidungnya dengan ganasnya menggeluti leherku yang jenjang, lengan tanganku yang harum dan mulus, dan ketiakku yang bersih dari bulu. Aku menggelinjang-gelinjang dengan tidak karuan. “Sssh… sssh…enak… enak… geli..geli, om. Geli… Terus masuk, om..” Bibirnya mengulum kulit lengan tanganku dengan kuat-kuat. Sementara tenaga dikonsentrasikan pada pinggulnya.

Dan…satu… dua… tiga! kontolnya ditusukkan sedalam-dalamnya ke dalam nonokku dengan sangat cepat dan kuat. Plak! Pangkal pahanya beradu dengan pangkal pahaku yang sedang dalam posisi agak membuka dengan kerasnya. Sementara kontolnya bagaikan diplirid oleh bibir nonokku yang sudah basah dengan kuatnya sampai menimbulkan bunyi: srrrt! “Auwww!” pekikku. Dia diam sesaat, membiarkan kontolnya tertanam seluruhnya di dalam nonokku tanpa bergerak sedikit pun. “Sakit om… ” kataku sambil meremas punggungnya dengan keras. Dia pun mulai menggerakkan kontolnya keluar-masuk nonokku. Seluruh bagian kontolnya yang masuk nonokku dipijit-pijit dinding lobang nonokku dengan agak kuatnya. “Bagaimana Din, sakit?” tanyaku.

“Sekarang sudah enggak om…ssh… enak sekali… enak sekali… kontol om besar dan panjang sekali… sampai-sampai menyumpal penuh seluruh penjuru nonok aku..,” jawabku. Dia terus memompa nonokku dengan kontolnya perlahan-lahan. Toketku yang menempel di dadanya ikut terpilin-pilin oleh dadanya akibat gerakan memompa tadi. Kedua pentilku yang sudah mengeras seakan-akan mengkilik-kilik dadanya. Kontolnya diiremas-remas dengan berirama oleh otot-otot nonokku sejalan dengan genjotannya tersebut. Sementara setiap kali menusuk masuk kepala kontolnya menyentuh suatu daging hangat di dalam nonokku. Sentuhan tersebut serasa geli-geli nikmat.

Dia mengangkat kedua kakiku. Sambil menjaga agar kontolnya tidak tercabut dari nonokku, dia mengambil posisi agak jongkok. Betis kananku ditumpangkan di atas bahunya, sementara betis kiriku didekatkan ke wajahnya. Sambil terus mengocok nonokku perlahan dengan kontolnya, betis kiriku yang amat indah itu diciumi dan dikecupi dengan gemasnya. Setelah puas dengan betis kiri, ganti betis kanannya yang diciumi dan digeluti, sementara betis kiriku ditumpangkan ke atas bahunya. Begitu hal tersebut dilakukan beberapa kali secara bergantian, sambil mempertahankan gerakan kontolnya maju-mundur perlahan di nonok ku. Setelah puas dengan cara tersebut, dia meletakkan kedua betisku di bahunya, sementara kedua telapak tangannya meraup kedua belah toketku.

Masih dengan kocokan kontol perlahan di nonokku, tangannya meremas-remas toket montok ku. Kedua gumpalan daging kenyal itu diremas kuat-kuat secara berirama. Kadang kedua pentilku digencet dan dipelintir-pelintir secara perlahan. Pentilku semakin mengeras, dan bukit toketku semakin terasa kenyal di telapak tangannya. Aku pun merintih-rintih keenakan. Mataku merem-melek, dan alisku mengimbanginya dengan sedikit gerakan tarikan ke atas dan ke bawah. “Ah…om, geli… geli… … Ngilu om, ngilu… Sssh… sssh… terus om, terus…. kontol om membuat nonok aku merasa enak sekali… Nanti jangan dingecretinkan di luar nonok, ya om. Ngecret di dalam saja… ”

Dia mulai mempercepat gerakan masuk-keluar kontolnya di nonokku. “Ah-ah-ah… bener, om. Bener… yang cepat…Terus om, terus… ” Dia bagaikan diberi spirit oleh rintihan-rintihanku. Tenaganya menjadi berlipat ganda. Ditingkatkan kecepatan keluar-masuk kontolnya di nonokku. Terus dan terus. Seluruh bagian kontolnya diremas-remas dengan cepatnya oleh nonokku. Aku menjadi merem-melek. Begitu juga dirinya, dia pun merem-melek dan mendesis-desis karena merasa keenakan yang luar biasa. “Sssh… sssh… Din… enak sekali… enak sekali nonokmu… enak sekali nonokmu…” “Ya om, aku juga merasa enak sekali… terusss…terus om, terusss…” Dia meningkatkan lagi kecepatan keluar-masuk kontolnya pada nonokku. “Om… sssh… sssh… Terus… terus… aku hampir nyampe…sedikit lagi… sama-sama ya om…,” aku jadi mengoceh tanpa kendali. Dia mengayuh terus. Sementara itu nonokku berdenyut dengan hebatnya.

“Om… Ah-ah-ah-ah-ah… Mau keluar om… mau keluar..ah-ah-ah-ah-ah… sekarang ke-ke-ke…” Tiba-tiba kontolnya dijepit oleh dinding nonok ku dengan sangat kuatnya. Di dalam nonokku, kontolnya disemprot oleh cairan yang keluar dari nonokku dengan cukup derasnya. Dan aku meremas lengan tangannya dengan sangat kuatnya. Aku pun berteriak tanpa kendali: “…keluarrr…!” Mataku membeliak-beliak. Sekejap tubuh kurasakan mengejang. Dia pun menghentikan genjotannya. Kontolnya yang tegang luar biasa dibiarkan tertanam dalam nonokku. Aku memejam beberapa saat dalam menikmati puncak. Setelah sekitar satu menit berlangsung, remasan tanganku pada lengannya perlahan-lahan mengendur. Kelopak mataku pun membuka, memandangi wajahnya. Sementara jepitan dinding nonokku pada kontolnya berangsur-angsur melemah, walaupun kontolnya masih tegang dan keras. Kedua kakiku lalu diletakkan kembali di atas ranjang dengan posisi agak membuka. Dia kembali menindih tubuh telanjangku dengan mempertahankan agar kontolnya yang tertanam di dalam nonokku tidak tercabut.

“Om… luar biasa… rasanya seperti ke langit ke tujuh,” kataku dengan mimik wajah penuh kepuasan. Kontolnya masih tegang di dalam nonokku. Kontolnya masih besar dan keras. Dia kembali mendekap tubuhku. Kontolnya mulai bergerak keluar-masuk lagi di nonokku, namun masih dengan gerakan perlahan. Dinding nonokku secara berangsur-angsur terasa mulai meremas-remas kontolnya. Namun sekarang gerakan kontolnya lebih lancar dibandingkan dengan tadi. Pasti karena adanya cairan yang disemprotkan oleh nonokku beberapa saat yang lalu. “Ahhh…om… langsung mulai lagi… Sekarang giliran om.. semprotkan peju om di nonok aku.. Sssh…,” aku mulai mendesis-desis lagi. Bibirnya mulai memagut bibirku dan melumat-lumatnya dengan gemasnya. Sementara tangan kirinya ikut menyangga berat badannya, tangan kanannya meremas-remas toket ku serta memijit-mijit pentilnya, sesuai dengan irama gerak maju-mundur kontolnya di nonokku. “Sssh… sssh… sssh… enak om, enak… Terus…teruss… terusss…,” desisku. Sambil kembali melumat bibirku dengan kuatnya, dia mempercepat genjotan kontolnya di nonokku. Pengaruh adanya cairan di dalam nonokku, keluar-masuknya kontol pun diiringi oleh suara, “srrt-srret srrrt-srrret srrt-srret…”

Aku tidak henti-hentinya merintih kenikmatan, “Om… ah… ” Kontolnya semakin tegang. Dilepaskannya tangan kanannya dari toketku. Kedua tangannya kini dari ketiak ku menyusup ke bawah dan memeluk punggungku. Akupun memeluk punggungnya dan mengusap-usapnya. Dia pun memulai serangan dahsyatnya. Keluar-masuknya kontolnya ke dalam nonok ku sekarang berlangsung dengan cepat dan bertenaga. Setiap kali masuk, kontol dihunjamkan keras-keras agar menusuk nonokku sedalam-dalamnya. Kontolnya bagai diremas dan dihentakkan kuat-kuat oleh dinding nonokku. Sampai di langkah terdalam, aku membeliak sambil mengeluarkan seruan tertahan, “Ak!” Sementara daging pangkal pahanya bagaikan menampar daging pangkal pahaku sampai berbunyi: plak! Di saat bergerak keluar nonokku, kontolnya dijaga agar kepalanya tetap tertanam di nonokku.

Remasan dinding nonokku pada kontolnya pada gerak keluar ini sedikit lebih lemah dibanding dengan gerak masuknya. Bibir nonokku yang mengulum kontolnya pun sedikit ikut tertarik keluar. Pada gerak keluar ini akumendesah, “Hhh…” Dia terus menggenjot nonokku dengan gerakan cepat dan menghentak-hentak. Aku meremas punggungnya kuat-kuat di saat kontol dihunjam masuk sejauh-jauhnya ke nonokku. Beradunya daging pangkal paha menimbulkan suara: Plak! Plak! Plak! Plak! Pergeseran antara kontolnya dan nonokku menimbulkan bunyi srottt-srrrt… srottt-srrrt… srottt-srrrt… Kedua nada tersebut diperdahsyat oleh pekikan-pekikan kecilku: “Ak! Hhh… Ak! Hhh… Ak! Hhh…” “Din… Enak sekali Din… nonokmu enak sekali… nonokmu hangat sekali… jepitan nonokmu enak sekali…”

“Om… terus om…,” rintihku, “enak om… enaaak… Ak! Hhh…” Diapun mengocokkan kontolnya ke nonokku dengan semakin cepat dan kerasnya. Setiap masuk ke dalam, kontolnya berusaha menusuk lebih dalam lagi dan lebih cepat lagi dibandingkan langkah masuk sebelumnya. “Din… aku… aku…” Karena menahan rasa nikmat yang luar biasa dia tidak mampu menyelesaikan ucapannya yang memang sudah terbata-bata itu. “Om, aku… mau nyampe lagi… Ak-ak-ak… aku nyam…” Tiba-tiba kontolnya mengejang dan berdenyut dengan amat dahsyatnya. Dia tidak mampu lagi menahan lebih lama lagi. Namun pada saat itu juga tiba-tiba dinding nonok ku mencekik kuat sekali. Dengan cekikan yang kuat dan enak sekali itu, dia tidak mampu lagi menahan jebolnya bendungan pejunya. Pruttt! Pruttt! Pruttt! Kepala kontolnya disemprot cairan nonokku, bersamaan dengan pekikanku, “…nyampee…!” Tubuhku mengejang dengan mata membeliak-beliak. “Din…!” dia melenguh keras-keras sambil merengkuh tubuhku sekuat-kuatnya. Wajahnya dibenamkan kuat-kuat di leherku yang jenjang. Pejunya pun tak terbendung lagi. Crottt! Crottt! Crottt! Pejunya menyembur dengan derasnya, menyemprot dinding nonokku yang terdalam. Kontolnya yang terbenam semua di dalam nonokku terasa berdenyut-denyut.

Beberapa saat lamanya kami terdiam dalam keadaan berpelukan erat sekali. Dia menghabiskan sisa-sisa peju dalam kontolnya. Cret! Cret! Cret! kontolnya menyemprotkan lagi peju yang masih tersisa ke dalam nonokku. Kali ini semprotannya lebih lemah. Perlahan-lahan baik tubuhku maupun tubuhnya tidak mengejang lagi. Dia menciumi leher mulusku dengan lembutnya, sementara aku mengusap-usap punggungnya dan mengelus-elus rambutnya. Aku merasa puas sekali dientot om. Ini baru awal permainan, karena si om akan nemani aku sampe besok sore, bayangkan berapa besarnya kenikmatan yang akan aku peroleh dari kontol si om.

CERITA Si Ratu Senggama

,
*CERITA INI HANYA KARANGAN / FIKTIF BELAKA COMOT SANA-SINI, UNTUK HIBURAN OTAK / REFRESHING.  *TIDAK ADA UNSUR MENJELEKKAN NAMA BAIK SESEORANG/INDIVIDU/KORPS/PROFESI/KOTA/DAERAH/SEKOLAH/ UNIVERSITAS, KESAMAAN NAMA HANYA KEBETULAN SAJA. *SEMUA CERITA SEX DEWASA HANYA UNTUK ANDA YG  BENAR-BENAR TELAH DEWASA DAN MENGERTI SEKALI AKAN RESIKO APABILA ANDA MEMPRAKTEKANNYA. BUKAN UNTUK ANDA YG BERPIKIR BAHWA SEX ADALAH UNTUK KESENANGAN BELAKA TANPA MEMPERDULIKAN UNTUNG RUGI DARI BERBAGAI PIHAK. DI INDONESIA BATASAN USIA DEWASA 18 TH KE ATAS.  *TIDAK MENGANJURKAN / WAJIB UTK TIDAK DILAKUKAN TANPA ATURAN DEMI KEBAIKAN SEMUA.  *TIDAK MENGANJURKAN /JANGAN  MELAKUKAN SEX BEBAS DILUAR ATURAN.  *BUKA HATI PIKIRAN SELUAS-LUASNYA MEMBACA SEMUA CERITA SEX DEWASA UTK DIJADIKAN SEBAGAI PEMBUKA CAKRAWALA BARU DALAM MEMAHAMI SEX DAN LIKA-LIKUNYA.  *LEBIH BAIK BERTANYA KEPADA AHLINYA ATAS KETIDAKTAHUAN ANDA TENTANG ISI / CONTENT SEX DAN LIKA-LIKUNYA AGAR TIDAK TERJERUMUS HAL NEGATIF.  *JADIKAN SEMUA SEBAGAI PENAMBAH WAWASAN ANDA AKAN SEX DAN LIKA-LIKUNYA.   ##LOVE YOU ALL##

Namaku Asri, biasa dipanggil "Sri" saja, asli dari Solo, pernah 4 kali menikah, tapi tidak pernah bisa
hamil, sehingga mantan-mantan suami semua meninggalkanku, bodyku sexy, kulitku kuning langsat,
tinggiku 161 cm dengan berat badan 50 kg,
"kamu persis Desy Ratnasari, Sri!", kata mantan suamiku terakhir. Banyak laki-laki lain juga
mengatakan aku persis seperti Desy Ratnasari.
Aku bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di kota Gudeg Yogyakarta, majikanku seorang
janda berusia 50 thn, Ibu Sumiati yang masih bekerja sebagai pegawai negeri di Gubernuran. Anaknya
3 orang.Yang pertama perempuan, Aryati 28 thn, bekerja sebagai sekretaris, 2 bulan lagi menikah. Yang
kedua juga perempuan, Suryati 25 thn, bekerja sebagai guru. Yang ketiga laki-laki, satu- satunya lakilaki
di rumah ini, tampan dan halus budi-pekertinya, Harianto 22 thn, masih kuliah, kata Ibu Sum, Mas
Har (demikian aku memanggilnya) tahun depan lulus jadi insinyur komputer. Wah hebat, sudah
guaaanteng, pinter pula...
Setiap pagi, aku selalu bangun jam 4:30, sebelum bekerja aku sudah mandi dengan sangat bersih,
berpakaian rapi. Aku selalu memakai rok panjang hingga semata- kaki, bajuku berlengan panjang. Aku
tahu, Ibu Sum senang dengan cara berpakaianku, dia selalu memujiku bahwa aku sopan dan soleha,
baik sikap yang santun, maupun cara berpakaian. Meskipun begitu, pakaianku semuanya agak ketat,
sehingga lekuk-lekuk tubuhku cukup terlihat dengan jelas.
Mas Har sering melirik ke arahku sambil terkagum-kagum melihat bentuk tubuhku, aku selalu
membalasnya dengan kedipan mata dan goyangan lidah ke arahnya, sehingga membuat wajahnya yang
lugu jadi pucat seketika. Paling telat jam 7:15, mereka semua berangkat meninggalkan rumah, kecuali
Mas Har sekitar jam 8:00.
Aku tahu, Mas Har sangat ingin menghampiriku dan bercumbu denganku, tapi ia selalu nampak pasif,
mungkin ia takut kalau ketahuan ibunya. Padahal aku juga ingin sekali merasakan genjotan
keperjakaannya.
Pagi itu, mereka semua sudah pergi, tinggal Mas Har dan aku yang ada di rumah, Mas Har belum
keluar dari kamar, menurut Ibu Sum sebelum berangkat tadi bahwa Mas Har sedang masuk angin, tak
masuk kuliah. Bahkan Ibu Sum minta tolong supaya aku memijatnya, setelah aku selesai
membersihkan rumah dan mencuci pakaian.
"Baik, Bu!", begitu sahutku pada Ibu Sum. Ibu Sum sangat percaya kepadaku, karena di hadapannya
aku selalu nampak dewasa, dengan pakaian yang sangat sopan. Setelah pasti mereka sudah jauh
meninggalkan rumah, aku segera masuk kamarku dan mengganti pakaianku dengan rok supermini dan
kaus singlet yang ketat dan sexy. Kusemprotkan parfum di leher, belakang telinga, ketiak, pusar dan
pangkal pahaku dekat lubang vagina. Rambutku yang biasanya kusanggul, kuurai lepas memanjang
hingga sepinggang. Kali ini, aku pasti bisa merenggut keperjakaan Mas Har, pikirku.
"Mas Har. Mas Har!" panggilku menggoda, "tadi Ibu pesan supaya Mbak Sri memijati Mas Har, supaya
Mas Har cepat sembuh. Boleh saya masuk, Mas Har?"
Pintu kamarnya langsung terbuka, dan nampak Mas Har terbelalak melihat penampilanku,
"Aduh, kamu cantik sekali, Mbak Sri... Persis Desy Ratnasari... ck, ck, ck..."
"Ah, Mas Har, bisa saja, jadi mau dipijat?"
"Jadi, dong..." sekarang Mas Har mulai nampak tidak sok alim lagi, "Ayo, ayo...", ditariknya tanganku
ke arah tempat tidurnya yang wangi....
"Kok wangi, Mas Har?" Rupanya dia juga mempersiapkan tempat tidur percumbuan ini, dia juga sudah
mandi dengan sabun wangi.
"Ya dong, kan ada Desy Ratnasari mau datang ke sini,".
Kami mulai mengobrol ngalor-ngidul, dia tanya berapa usiaku, dari mana aku berasal, sudah kawin
atau belum, sudah punya anak atau belum, sampai kelas berapa aku sekolah. Omongannya masih
belum "to-the-point" , padahal aku sudah memijatnya dengan sentuhan-sentuhan yang sangat
merangsang. Aku sudah tak sabar ingin bercumbu dengannya, merasakan sodokan dan genjotannya,
tapi maklum sang pejantan belum berpengalaman.
"Mas Har sudah pernah bercumbu dengan perempuan?", aku mulai mengarahkan pembicaraan kami,
dia hanya menggeleng lugu.
"Mau Mbak Sri ajari?", wajahnya merah padam dan segera berubah pucat. Kubuka kaus singletku dan
mulai kudekatkan bibirku di depan bibirnya, dia langsung memagut bibirku, kami bergulingan di atas
tempat tidurnya yang empuk dan wangi, kukuatkan pagutanku dan menggigit kecil bibirnya yang
merah delima, dia makin menggebu, batang kontolnya mengeras seperti kayu...
Wow! dia melepas beha-ku, dan mengisap puting susuku yang kiri, dan meremas- remas puting susuku
yang kanan...
"Aaah.. sssshhhh, Mas Har, yang lembut doooong..." desahku makin membuat nafasnya menderu...
"Mbak Sri, aku cinta kamu...." suaranya agak bergetar..
"Jangan, Mas Har, saya cuma seorang Pembantu, nanti Ibu marah," kubisikkan desahanku lagi....
Kulucuti seluruh pakaian Mas Har, kaos oblong dan celana pendeknya sekaligus celana dalamnya,
langsung kupagut kontolnya yang sudah menjulang bagai tugu monas, kuhisap-hisap dan kumajumundurkan
mulutku dengan lembut dan terkadang cepat...
"Aduuuh, enaaaak, Mbak Sri...." jeritnya...
Aku tahu air-mani akan segera keluar, karena itu segera kulepaskan kontolnya, dan segera meremasnya
bagian pangkalnya, supaya tidak jadi muncrat. Dia membuka rok-miniku sekaligus celana dalamku,
segera kubuka selangkanganku.
"Jilat itil Mbak Sri, Mas Haaaarrr..., yang lamaaa...", godaku lagi... Bagai robot, dia langsung
mengarahkan kepalanya ke nonokku dan menjilati itilku dengan sangat nafsunya....
"Sssshhhh, uu-enaaak, Mas Haaaarrrr... ., sampai air mani Mbak Sri keluar, ya mas Haaar".
"Lho, perempuan juga punya air mani..?" tanyanya blo'on. Aku tak menyahut karena keenakan...
"Mas Haaarrr, saya mau keluaaar..." serrrrrr.... serrrrrrrrr. ... membasahi wajahnya yang penuh birahi.
"Aduuuuh, enak banget, Mas Har! Mbak Sri puaaaaaassss sekali bercinta dengan Mas Har..... kontol
Mas Har belum keluar ya? Mari saya masukin ke liang kenikmatan saya, Mas! Saya jamin Mas Har
pasti puas-keenakan. ..."
Kugenggam batang pelernya, dan kutuntun mendekati lubang nonokku, kugosok- gosokkan pada itilku,
sampai aku terangsang lagi... Sebelum kumasukkan batang keperkasaannya yang masih ting-ting itu ke
lubang nonokku, kuambil kaos singletku dan kukeringkan dulu nonokku dengan kaos, supaya lebih
peret dan terasa uuenaaaak pada saat ditembus kontolnya Mas Har nanti...
"Sebelum masuk, bilang 'kulonuwun' dulu, dong sayaaaaaang. ..", candaku....
Mas Har bangkit sebentar dan menghidupkan radio-kaset yang ada di atas meja kecil di samping
ranjang..... lagunya.... mana tahaaaan....
"Kemesraan ini Janganlah Cepat Berlalu..... ."
"Kulonuwun, Mbak Sri cintakuuuuu. ..."
"Monggo, silakan masuk, Mas Haaaarrr Kekasihkuuuuu. ..", segera kubuka lebar- lebar
selangkanganku, sambil kuangkat pinggulku lebih tinggi dan kuganjel dengan guling yang agak keras,
supaya batang kenikmatannya bisa menghunjam dalam- dalam. ... Sreslepppppp. ........ blebessss... ..
"Auuuuuow... .", kami berdua berteriak bersamaan... ..
"Enaaaak banget Mbak Sri, nonok Mbak Sri kok enak gini sih....?"
"Karena Mbak Sri belum pernah melahirkan, Mas Har... Jadi nonok Mbak Sri belum pernah melar
dibobol kepala bayi..... kalau pernah melahirkan, apalagi kalau sudah melahirkan berkali-kali, pasti
nonoknya longgar sekali, dan nggak bisa rapet seperti nonoknya Mbak Sri begini, sayaaaaang.. . lagi
pula Mbak selalu minum jamu sari- rapet, pasti SUPER-PERET. ...", kami berdua bersenggama sambil
cekikikan keenakan... Kami berguling-guling di atas ranjang-cinta kami sambil berpelukan erat
sekali....
Sekarang giliranku yang di atas... Mas Har terlentang keenakan, aku naik-turunkan pinggulku, rasanya
lebih enak bila dibanding aku di bawah, kalau aku di atas, itilku yang bertumbukan dengan tulang
selangkang Mas Pur, menimbulkan rasa nikmat yang ruaaaaarbiassssa uu-enaaaaaaknya. ....
Keringat kami mulai berkucuran, padahal kamar Mas Har selalu pakai AC, sambil bersenggama, mulut
kami tetap berpagutan-kuat. Setelah bosan dengan tengkurap di atas tubuh Mas Har, aku ganti gaya.
Mas Har masih tetap terlentang, aku berjongkok sambil kunaik-turunkan bokongku. Mas Har malah
punya kesempatan untuk menetek pada susuku, sedotannya pada tetekku makin membuatku tambah
liar, serasa seperti di-setrum sekujur tubuhku.
Setelah 10 menit aku di atas, kami berganti gaya lagi... kami berguling-gulingan lagi tanpa melepaskan
kontol dan nonok kami. Sekarang giliran Mas Har yang di atas, waduuuuh... sodokannya mantep
sekali... terkadang lambat sampai bunyinya blep-blep-blep. .. terkadang cepat plok-plok- plok. .. benarbenar
beruntung aku bisa senggama dengan Mas Harianto yang begini kuaaaatnya, kalau kuhitungkuhitung
sudah tiga kali air nonokku keluar karena orgasme, kalau ditambah sekali pada waktu itilku
dijilati tadi sudah empat kali aku orgasme... benar-benar nonokku sampai kredut-kredut karena
dihunjam dengan mantapnya oleh kontol yang sangat besar dan begitu keras, bagaikan lesung dihantam
alu..... bertubi-tubi. ... kian lama kian cepat...... waduuuuhhhhh. ..... Wenaaaaaaaaakkkkk
tenaaaaan... ...

"Mbak Sri, aku hampir keluaaaaaar nih...!!" ....
"Saya juga mau keluar lagi untuk kelima kalinya ini, Mas Haaaaar.... Yuk kita bersamaan sampai di
puncak gunung kenikmatan, yaaa sayaaaaanngggg"
"Ambil nafas panjang, Mas Har... lalu tancepkan kontolnya sedalam-dalamnya sampai kandas...... baru
ditembakkan, ya Maaaasss... ssssshhhhhh. ......."
Sambil mendesis, aku segera mengangkat pinggulku lagi, kedua kakiku kulingkarkan pada
pinggangnya, guling yang sudah terlempar tadi kuraih lagi dan kuganjelkan setinggi-tingginya pada
pinggulku, hunjaman kontol Mas Har semakin keras dan cepat, suara lenguhan kami berdua
hhh...hhhhh. ...hhhhhh. .... seirama dengan hunjaman kontolnya yang semakin cepat.....
"Tembakkan sekaraaaaang, Maaaasssss!" , Mas Har menancapkan kontolnya lebih dalam lagi, padahal
sedari tadi sudah mentok sampai ke mulut rahimku.... bersamaan dengan keluarnya air nonokku yang
kelima kali, Mas Har pun menembakkan senjata otomatis berkali-kali dengan sangat kerasnya....
CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!!
CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! Berhenti sebentar dan CROOTTTTT!!!
CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! lagi..... Seperti wong edan, kami berdua berteriak panjaaaaanggg
bersamaan;
"Enaaaaaaaaaakkkkk! "..... sekujur tubuhku rasanya bergetar semuanya... dari ujung kepala sampai
ujung kaki, terutama nonokku sampai seperti "bonyok" rasanya..... Mas Har pun rebah tengkurep di
atas tubuh telanjangku. .... sambil nafas kami kejar-mengejar karena kelelahan...
"Jangan cabut dulu, ya Maaasss sayaaaang... masih terasa enaknya... tunggu sampai semua getaran dan
nafas kita reda, baru Mas Har boleh cabut yaaa......" pintaku memelas..... kami kembali bercipokan
dengan lekatnya.... .. kontolnya masih cukup keras, dan tidak segera loyo seperti punya mantan-mantan
suamiku dulu....
"Mbak Sri sayaaaang, terima kasih banyak ya..... pengalaman pertama ini sungguh- sungguh luar
biasa... Mbak Sri telah memberikan pelayanan dan pelajaran yang maha-penting untuk saya...... saya
akan selalu mencintai dan memiliki Mbak Sri selamanya... ."
"Mas Har cintaku, cinta itu bukan harus memiliki... tanpa kawin pun kalau setiap pagi --setalah Ibu &
mbak-mbak Mas Har pergi kerja--, kita bisa melakukan senggama ini, saya sudah puas kok, Massss.....
Apalagi Mas Harianto tadi begitu kuatnya, setengah jam lebih lho kita tadi bersetubuhnya, Mas!
Sampai nonok saya endut-endutan rasanya tadi....."
"Aku hari ini tidak pergi kuliah, kebetulan memang ada acara untuk mahasiswa baru... jadi ndak ada
kuliah...", kata Mas Harianto.
"Nah... kalau begitu, hari ini kita kan punya banyak waktu, pokoknya sampai sebelum Ibu dan Mbakmbak
Mas Har pulang nanti sore, kita main teruuuusss, sampai 5 ronde, kuat nggak Mas Har?", sahutku
semakin menggelorakan birahinya.
"Nantang ya?" Tanyanya sambil tersenyum manis, tambah guanteeeeng dia..... "aku cabut sekarang, ya
Mbak? sudah layu tuh sampai copot sendiri...." kami tertawa cekikikan dengan tubuh masih telanjang
bulat.... setelah mencabut kontolnya dari nonokku, Mas Har terlentang di sisiku, kuletakkan kepalaku
di atas dadanya yang lapang dan sedikit berbulu.... radio kaset yang sedari tadi terdiam, dihidupkan
lagi... lagunya masih tetap "kemesraan ini janganlah cepat berlaluuuuuu. ..."
Setelah lagunya habis, "Mas sayaaang, Mbak Sri mau bangun dulu ya.... Mbak Sri harus masak sarapan
untuk Mas...."
"Untuk kita berdua, dong, Mbak Sri.... masak untuk dua porsi ya... nanti kita makan berdua sambil
suap-suapan. Setuju?", sambil ditowelnya tetekku, aku kegelian dan "auuuwwww! Mas sudah mulai
pinter nggangguin Mbak Sri ya.., Mbak Sri tambah sayang deh".
Aku bangkit dari ranjang, dan berlari kecil ke kamar mandi yang jadi satu dengan kamar tidurnya,
"Mas, numpang cebokan, ya..." Kuceboki nonokku, nonok Asri yang paling beruntung hari ini, karena
bisa merenggut dan menikmati keperjakaan si ganteng Mas Har... waduuuuhhh.. . benar-benar nikmat
persetubuhanku tadi dengannya.. meskipun nonokku sampai kewalahan disumpal dengan kontol yang
begitu gede dan kerasnya -- hampir sejengkal- tanganku panjangnya.. .. wheleh.. wheleh....
"Sebelum bikin nasi goreng, nanti Mbak bikinkan Susu-Telor-Madu- Jahe (STMJ) buat Mas Har, biar
ronde-ronde berikutnya nanti Mas tambah kuat lagi, ya sayaaaaaang. ..."
Kuambil selimut dan kututupi sekujur tubuhnya dengan selimut, sambil kubisikkan kata-kata
sayangku... "Sekarang Mas Har istirahat dulu, ya..." kuciumi seluruh wajahnya yang mirip Andy Lau
itu...
"Terima kasih, Mbak Sri... Mbak begitu baik sama saya... saya sangat sayang sama Mbak Sri...".
Kupakai pakaianku lagi, segera aku lari ke dapur dan kubuatkan STMJ untuk kekasihku... . setelah
STMJ jadi, kuantarkan lagi ke kamarnya,
"Mas Har sayaaaang... . mari diminum dulu STMJ-nya, biar kontolnya keras kayak batang kayu nanti,
nanti Mbak Sri ajari lagi gaya-gaya yang lain, ada gaya kuda-kudaan, anjing-anjingan, gaya enamsembilan
, dan masih ada seratus gaya lagi lainnya, Masssss," kataku membangkitkan lagi gelora
birahinya... selesai minum diciuminya bibirku dan kedua pipiku.... dan Mas Harianto-ku, cintaanku,
tidur lagi dengan tubuh telanjang dilapisi selimut.
Aku segera kembali ke tempat biasanya aku mencuci pakaian majikanku, menyapu rumah dan
mengepelnya. . semua kulakukan dengan cepat dan bersih, supaya tidak ada ganjelan utang kerjaan
pada saat bersenggama lagi dengan Mas Har nanti....
Kumasakkan nasi goreng kesukaan Mas Har dalam porsi yang cukup besar, sehingga cukup untuk

sarapan berdua dan juga makan siang berdua... hmmm.... nikmat dan mesranya... seperti penganten
baru rasanya...
Setelah nasi gorengnya jadi, kusiapkan dalam piring yang agak lebar, kutata penyajian dengan
kelengkapan tomat, timun, telur mata-sapi, dan kulengkapi pula dengan sebuah pisang mas yang agak
mungil, kusiapkan pula segelas coca-cola kesukaannya. Dengan memakai daster tipis tanpa beha dan
celana dalam, kuantarkan makanan tadi ke kamarnya. Langsung kubuka saja pintu kamarnya...
Aduh! Betapa terkejutnya diriku, ketika kulihat Mas Har sudah bangun dari tidurnya, tanpa memakai
selimut lagi, Mas Har sedang ngeloco (mengocok kontolnya), dengan wajah merah-padam. .. Segera
kuletakkan makanan di atas meja tulisnya..
"Aduuuuhhh, jangan seperti itu, sayang, ngocoknya... nanti bisa lecet... nanti pasti Mbak Sri
kocokkan... tapi Mas Har harus makan dulu, supaya ada tenaga lagi... kalau ndak makan dulu, nggak
bisa kuat dan tahan lama senggamanya, Mas!"
Kutanggalkan dasterku, segera dia menyergap tubuh telanjangku, dihisapnya puting tetekku yang
kanan, sedang tangannya memilin tetekku yang kiri... Kupikir ini pasti gara-gara STMJ tadi,
"Sabar dong, Mas-ku tersayaaaaang. .., yuk kita makan nasi goreng kesukaan Mas, sepiring berdua
Mas, kayak judulnya lagu dangdut..."
Kusuapi Mas Har-ku dan disuapinya pula aku, sambil tangannya mengkilik-kilik itilku dengan sangat
birahinya. Wah! Edhiaan tenan reaksi STMJ tadi.... Hihihi...
"Mas Har sayang, jangan kenceng-kenceng dong kilikannya, nggak nikmaaat.... ", dia memperlambat
kilikannya, sambil kami lanjutkan dan tuntaskan sarapan kami. Selesai makan, kuambilkan pula segelas
besar coca-cola, kuulurkan gelas coca-cola ke mulutnya. Minum seteguk, Mas Har pun mengambil
gelas dan mengulurkan pula ke mulutku.... wah! mesranya, Mas Har-ku ini...
Kuambil pisang mas, kukupas dan kubuang kulitnya, lalu aku berbaring di samping Mas Har, kubuka
selangkanganku lebar-lebar, dan kumasukkan pisang tadi ke dalam liang nonokku.... Mas Har agak
terkejut,
"Ayo! Bisa nggak makan pisang sampai habis dari lubang nonok Mbak Sri? Kalau bisa, nanti Mbak Sri
ajari teknik-teknik dan gaya-gaya senggama yang lain deh!"
"Siapa takut!" sahut Mas Har...
Dia segera menaiki tubuhku, dengan posisi tengkurap... mulutnya di depan nonokku, ditariknya pisang
itu dengan pelan-pelan dan sedikit-sedikit digigitnya daging pisangnya, sedangkan kontolnya pun
terjuntai ngaceng di depan mulutku.... segera kugenggam dan kumasukkan barangnya yang ngaceng itu
ke dalam mulutku, kumainkan lidahku mengusap-usap kepala kontolnya, dan dimaju-mundurkannya
pisang mas tadi dalam liang nonokku, sehingga menimbulkan perasaan yang sangat nikmaaaaat dan
memerindingkan seluruh bulu-bulu tubuhku....
"Mbak Sri, pisangnya sudah habis.... hebat kan?" Katanya lugu...
"Mas Har memang nomer satu buat Mbak Sri..." sahutku memujinya, membuatnya tersanjung dan
sangat ditinggikan harga dirinya.
"Sekarang apalagi?" tanya Mas Har...
"Silakan Mas jilati dan mainkan lidah dalam liang nonok saya... dan saya akan meng-emuti dan
mengocok kontol Mas dengan mulut saya.... ini namanya gaya 69, Mas sayaaang... mulut Mas ketemu
nonok saya dan mulut saya ketemu kontol Mas Har.... Enaaaak kan, sayaaang?"
"Wah! Sensasinya luar-biasa, Mbak......"
"Kalau bercinta itu jangan buru-buru, Mas.... harus sabar dan tenang, sehingga emosi kita bisa
terkendali. Kalau Mas mau sampai duluan dengan cara ngeloco seperti tadi, kalau sempat keluar kan
saya harus nunggu lagi kontol Mas ngaceng... kasian dong sama saya, Mas," suaraku kubikin seperti
mau menangis.... .
"Maafkan saya, ya Mbak Sri.... saya belum ngerti... mesti harus banyak belajar sama Mbak....."
Kami lanjutkan gaya 69 kami, kutelan habis kontolnya, kuhisap-hisap dan kumaju- mundurkan dalam
mulutku.... sementara Mas Har meluruskan lidahnya dan menjilati ITIL-ku, kemudian memasukkan
lidahnya yang kaku ke dalam liang nonokku... ini berlangsung cukup lama...
Pada menit kelimabelas, serrr... serrrr... serrrr.... cairan hangat nonokku meluap, sekarang Mas Har
malah menelannya.. .. aooowwww!
Dan pada menit keduapuluhlima, serrr... serrrr... serrrr.... lagi, kali ini lebih enaaaak lagi, kukejangkan
seluruh tubuhku.... sambil mulutku tetap terus mengocok kontolnya yang kerasnya mintaampuuuuun.
... pada waktu itu juga, kontolnya memuncratkan air-peju dengan sangat derasnya,
langsung kutelan seluruhnya, sampai hampir keselek..... .
"Enaaaakkkk. ...." Mas Har berteriak keenakan.... . Kami berguling, sekarang saya yang di atas, dengan
tetap memagut kontolnya yang masih cukup keras, kuhisap terus kontolnya, sampai tubuh Mas Har
berkedut-kedut memuncratkan tembakan-tembakan terakhirnya. .... kujilati kontol Mas Har sampai
bersiiiiih sekali dan segera aku berputar, sehingga kepala kami berhadap-hadapan dengan posisi aku
masih tetap di atas...
"Gimana, Mas Har sayaaang.... Enak opo ora?" godaku...
"Uu-enaaaaaaakkkkk tenaaaan.... ", kata Mas Har menirukan gaya pelawak Timbul dalam sebuah iklan
jamu..... Kami berciuman lagi dan berguling-guling lagi.... mulut kami tetap berpagutan dengan sangat
kuaaaatnya.. ... Kucari kontolnya dan kupegang... wah sudah ngaceng keras lagi rupanya..... luarbiasa
kuatnya Mas Har kali ini, lebih kuat dari ronde tadi pagi.....
"Mas Har... saya ajari gaya kuda-kudaan. .. mau nggak?",
"Mau dong, sayaaaang... . Gimana?", tanyanya penasaran... .
"Mas Har duduk menyender dulu....."
Dia segera mengikuti perintahku, duduk menyender landai pada sebuah bantal yang kutegakkan di

punggung ranjang, akupun segera mengambil posisi jongkok membelakanginya. Kugenggam
kontolnya dan kutancapkan ke nonokku dari belakang.... BLESSS!!!, tangan Mas Har mendekap kedua
tetekku dari belakang.... Sekarang giliranku yang harus menaik-turunkan pantatku seperti orang naik
kuda.... semuanya berlangsung dengan sangat halus.... sehingga tidak sampai menimbulkan lecet pada
kontol Mas Har maupun nonokku.....
"Gimana Mas?", tanyaku untuk mengalihkan konsentrasi, supaya air-pejunya tidak segera muncrat..... .
"Benar-benar Mbak Sri pantas menjadi dosen percintaan saya.....", katanya sambil mendesah-desah dan
mendesis-mendesis keenakan... Itilku kembali bertumbukan nikmat dengan tulang selangkang Mas
Har... Nikmatnya sudah sampai mneggeletarkan segenap perasaanku, membuat perasaanku semakin
menyatu dan terikat kuat dengan perasaan Mas Har..... inilah arti sesungguhnya persetubuhan. ...
Kuatur kecepatan pacuan kuda-kudaan ini, sehingga kenikmatannya bisa kukendalikan, sementara Mas
Har terlentang dengan tenang, makin didekapnya kedua buah dadaku, diremas-remasnya, dipilinpilinnya,
diremas-remas lagi... membuatku kembali ingin mencapai puncak kenikmatan.. ..
kukejangkan seluruh anggota tubuhku.... Mas Har sudah mulai mengerti bahwa aku akan mencapai
puncak.....
"Keluar lagi ya, Mbak?" tanyanya.... . Ya! serrr... serrrr... serrrrr...., kembali cairan hangat nonokku
tertumpah lagi.... kelelahan aku rasanya..... . lelah tapi enaaak....
Aku melepaskan kontolnya dari lubang nonokku, kekeringkan nonokku dengan dasterku supaya peret
lagi... Mas Har melihat pemandangan ini dengan wajah lugu, kuberi dia senyum manis....
"Saya sudah capek, Mas.... Gantian dong... Mas Har sekarang yang goyang, ya?"
Sekarang aku mengambil posisi menungging di pinggir ranjang..... Mas Har kuminta berdiri dan
menembakkan rudalnya yang super-keras dari belakang,
"Yang ini gaya anjing-anjingan, Mas..... tapi jangan salah masuk ke lubang pantat ya... pas yang di
bawahnya yang merah merekah itu, lho ya...."
"Kalau di lubang pantat katanya lebih enak, Mbak Sri?" tanyanya lucuuuu.... "memang lebih enak
untuk laki-laki, tapi tidak untuk perempuan... .. itu kan namanya tidak adil, Mas.... Lagipula lubang
pantat itu kan saluran untuk tai, kotoran yang kita buang, itu tidak sehat namanya, bisa kena penyakit
aids, Mas.... Aids itu mematikan dan tidak ada obatnya lho, hiiii.... seremmmm.... "
Mas Har memasukkan kontolnya pelan-pelan ke lubang nonokku dari belakang sambil berdiri di
pinggir ranjang, pelan-pelan sekaliiiiii. .... seolah-olah dia takut kalau sampai merusakkan lubang
nikmat ini..... aku tahu sekarang.... Mas Har sangat sayang padaku, sehingga tingkah-laku
persenggamaannya pun melukiskan betapa besar perasaan cintanya pada diriku....
"Aaaaahhhhhh. ...", aku mendesah sambil merasakan hunjaman kontolnya yang kembali menembus
nonokku, demikian juga dengan Mas Har... dilingkarkannya tangan kirinya di perutku, sedang tangan
kanannya meremas tetekku..... . Dia mulai menggoyangkan kontolnya maju mundur.... blep-blepblep.
.....aduuuuhhh. .... mantapnyaaaa. ..... tenaganya sangat kuat dan berirama tetap...... membuat
aliran- darahku menggelepar di sekujur tubuhku..... ..
"Enaaaak, Maaaaasssss. ......", lagi-lagi kukejangkan seluruh anggota tubuhku sambil kukeluarkan lagi
cairan hangat nonokku kesekian kalinya..... . puaaaasssss sekali tiada taranya..... ..
"aaaaaahhhhhhhh. ......... ", lenguhku.... .... "Lap dulu dong, Mbak Sriiii..... becek sekali nih...."
pintanya.... . Kuambil dasterku dan kuserahkan padanya..... . segera dia mengeringkan nonokku dan
juga kontolnya yang basaaaah tersiram cairan hangatku.... .
"Mbak, aku sudah hampiiiirrr keluaaaarrr. ...." desahnya membuatku semakin terangsang.. ....
"Tembakkan saja, Massss...... .."
Tembakannya masih sekencang yang sebelumnya.. .... sampai nonokku penuh dengan air-pejunya yang
ekstra-kental itu.......
"Aaaaahhhhhhhh. ......" Mas Har berteriak keenakan.... .. demikian juga dengan aku, kukejangkan
tubuhku dan kusiram lagi kontolnya dengan cairan hangat kenikmatan nonokku..... .
"Aaaaaaahhhhhhh, Massss Harrrrr..... ... Mbak Sri cintaaaaa banget sama Mas Har......."
"Aku juga Mbak..... selain Mbak Sri, tidak ada perempuan lain yang aku cintai di dunia ini .....", aku
tahu kata-kata ini sangat jujur.... membuatku semakin menggelinjang kenikmatan.. ....
"Terima kasih Mas Harrrrrr.... . untuk cinta Mas Har yang begitu besar kepada saya....." Dengan tanpa
melepaskan kontolnya, Mas Har dengan hati-hati dan penuh perasaan menengkurapkan tubuhnya di
atas tubuh telanjangku. ... dan aku kemudian meluruskan kakiku dan tubuhku mengambil posisi
tengkurap... .. dengan Mas Har tengkurap di belakangku.. ...
Mulutnya didekatkan pada telingaku... . nafasnya menghembusi tengkukku... . membuatku terangsang
lagi......
"Enaaaak dan puassss sekali, Mbak Sri..... Apa Mbak Sri juga puas?"
"Tentu, Mas Har..... dari pagi tadi sudah sembilan kali nonok saya memuntahkan air hangatnya... ..
Pasti saya puasssss bangettt, Mas!"
"Terima kasih, ya sayaaaang... ... aku ingin setiap hari bercinta dengan Mbak Sri seperti ini......."
"Boleh, Massss.... saya juga siap kok melayani Mas Har setiap hari..... kecuali hari Minggu
tentunya.... . Ibu dan Mbak-mbak kan ada di rumah kalau Minggu...."
Mas Har melepaskan kontolnya dari lubang nonokku, aku segera mengambil posisi terlentang, dan Mas
Har pun merebahkan dirinya di sisiku....
Jam dinding sudah menunjukkan jam 10.40...... sambil berpelukan dan berciuman erat, kutarik selimut
untuk menutupi tubuh telanjang kami berdua... dan kami pun tertidur sampai siang.....
Sudah hampir jam setengah-dua ketika aku terbangun, pantes perutku rasanya lapar sekali. Mas Har
masih belum melepaskan pelukannya sedari tadi, rasanya dia tidak ingin melewatkan saat-saat nikmat
yang sangat langka ini, bisa seharian bersenggama dengan bebasnya. Kucium bibirnya untuk
membangunkan lelaki kesayanganku ini,
"Mas sayaaang, bangun yook, kita makan siang. Nanti abis makan kita bercinta lagi sampai sore...."
"Mmmm..." Mas Har menggeliat, "sudah jam berapa, istriku?"
"Setengah-dua, suamikuuuu.. ...", jawabku genit....
"Makan-nya di ruang makan, yok Mas, nggak usah pakai baju nggak apa-apa, kan pintu-pintu dan
korden-korden sudah Mbak Sri tutup tadi...."
Dengan bugil bulat, kami berdua bangun dan berjalan ke ruang tamu, sambil Mas Har menggendong/
mengangkatku ke ruang tamu.
"Edhian tenan, koyok penganten anyar wae....." kataku dalam hati.... ("gila benar, seperti pengantin
baru saja")....
Selesai makan siang, Mas Har kembali menggendongku ke kamar, sambil kuelus- elus kontol Mas Har
yang sudah mengeras seperti batang kayu lagi.....
Direbahkannya diriku dengan hati-hati di atas ranjang cinta kami. Aku segera mengambil posisi
memiringkan tubuh ke kanan, supaya Mas Har juga mengambil posisi miring ke kiri, sehingga kami
berhadap-hadapan. ...
"Mas sayaaang, kita senggama dengan posisi miring seperti ini, ya....., lebih terasa lho gesekan kontol
Mas Har di dalam nonok Mbak Sri nanti," ajakku untuk membangkitkan rangsangan pada Mas Har....
Kami tetap berposisi miring berhadap-hadapan sambil berciuman kuat dan mesra. Kali ini Mas Har
lebih aktif mencium seluruh wajah, tengkuk, belakang telinga, leher, terus turun ke bawah, payudarakiriku
kuisap-isapnya, sementara yang kanan dipilin-pilinnya lembut.....
Rangsangan ini segera membangkitkan birahiku. Mulutnya bergerak kagi ke bawah, ke arah pusar,
dijilatinya dan ditiupnya lembut, kembali aku mendesah-mendesis nikmat, sambil jari tangannya
mengobok-obok lembut lubang nonokku, mengenai itilku, menimbulkan kenikmatan yang hebaaaat...,
kukejangkan seluruh tubuhku, sampai pingganggku tertekuk ke atas, serrrrrr.... kubasahi tangannya
yang lembut dengan semburan cairan hangat yang cukup deras dari nonokku...
"Mas, masukkan sekarang, Masssss..... Mbak Sri udah nggak tahaaaannnn. .....", pintaku manja.....
Tetap dengan posisi miring-berhadapan, kubuka selangkanganku tinggi-tinggi, kugenggam kontolnya
dan kusorongkan lembut ke lubang kenikmatan.. ...
"aaaaahhhhhh. ......" lenguhan kami kembali terdengar lebih seru.... Kontol Mas Har baru masuk
setengahnya dalam nonokku, dimajukannya lagi kontolnya, dan kumajukan pula nonokku menyambut
sodokannya yang mantap-perkasa. ....
"Mas sayaaaang... maju-mundurnya barengan, ya.....", ajakku sambil mengajari teknik senggama yang
baru, kunamakan gaya ini "Gaya Miring", dengan gaya ini kami berdua bisa sama-sama goyang, tidak
sepihak saja..... Kami maju dan mundur bersamaan tanpa perlu diberi aba-aba.... rasanya lebih enak
dibandingkan pria di atas wanita di bawah.... Kulihat Mas Har merem-melek, demikian juga dengan
diriku, kontol Mas Har dengan irama teratur terus menghunjam-mantap berirama di dalam liang sempit
Asri..... nonokku mulai tersedut-sedut lagi, tanda akan mengeluarkan semburan hangatnya... ..
"Aduuuuhhhh, Maaaaassssss, enaaaaakkkkkkk. .......", aku agak berteriaksambil mendesis.... ...
Air mani Mas Har belum juga muncrat, luarbiasa kuatnya kekasihku ini.....
"Ganti gaya, Maaaasssss.. .. cabut dulu sebentar.... ." ajakku lagi, sambil kuputar tubuhku, tetap pada
posisi miring membelakanginya, Mas Har memelukku kuat dari belakang, sambil meremas lembut
kedua tetekku, kuangkat kakiku sebelah, dan kuhantar lagi kontolnya memasuki nonokku..... .
"aaaaaaaaahhhhhhhhh hh.... enak, Mbak Sriiiiii.... ..., gesekannya lebih terasa dari yang tadiiiiii... .."
Mas Har mendesah nikmat..... Kali ini aku hanya diam, sedang Mas Har yang lebih aktif memajumundurkan
kontolnya yang belum muncrat-muncrat juga air-maninya. ..... Sudah jam setengah-tiga,
hampir satu jam dengan dua gaya yang baru ini......
"Mbak Sri, siap-siap yaaa.... rudalku hampir nembak...."
Kupeluk erat guling, dan Mas Har semakin mempercepat irama maju-mundurnya. .....
"Aaah, aaah, aaahh...." Mas Har mendesah sambil mengeluarkan air maninya dengan tembakan yang
kuat-tajam-kental bagai melabrak seluruh dinding-dinding rahimku..... setrumnya kembali menyengat
seluruh kujur tubuhku.....
"Aaaaaaaa... ......" aku berteriak panjaaaanng sambil kusemburkan juga air nonokku..... .
Tenaga kami benar-benar seperti terkuras, getaran cinta kami masih terus terasa..... tanpa melepaskan
pelukan dan juga kontolnya, masih dengan posisi miring, kami tertidur lagi beberapa menit... sampai
semua getaran mereda......
Jam tiga sudah lewat.... berarti masih bisa satu ronde lagi sebelum Ibu Sum dan kakak-kakaknya
pulang dari kerja.....
"Mas, bangun, Mas.... sudah jam tiga lewat..... saya kan mesti membereskan kamar ini, mandi dan
berpakaian sopan seperti biasanya bila ada Ibu....."
"Mandi bareng, yok..... di sini aja di kamar mandiku, ada air hangatnya kan?" ajaknya....
Dicabutnya kontolnya dari lobang nonokku yang sudah kering, aduuuhhhh enaknya..... . Aku pun
segera bangun dan menarik tangannya, Mas Har bangkit dan memelukku, menciumku, menggelitiki
tetek dan nonokku, kembali birahiku naik.....
Sampai di bawah kran pancuran air hangat, kami berdua berpelukan, berciuman, merangkul kuat....
Dengan posisi berdiri kembali kontol Mas Har mengeras bagai batu, segera kurenggut dan kugenggam
dan kumasukkan lagi ke nonokku. Dengan tubuh basah disiram air hangat dari pancuran, dan tetap
dengan berdiri, kami bersenggama lagi...... bagai geregetan, Mas Har kembali menggerakkan kontolnya
maju-mundur, sementara aku bagai menggelepar memeluk erat tubuhnya yang perkasa.....
"Mas, sabunan dulu, ya sayaaaanggg. ...", tanpa melepaskan kedua alat kelamin kami, kami saling
menyabuni tubuh kami, khususnya di bagian-bagian yang peka- rangsangan. ...
"Lepas dulu, ya sayaaanggg.. .. kuambilkan handuk baru untuk kekasihku... ..", Mas Har melepaskan
tusukannya, menuju lemari pakaian, dan diambilnya dua handuk baru, satu untukku satu untuknya...
Selesai handukan, aku bermaksud mengambil dasterku untuk berpakaian, karena kupikir
persenggamaan hari ini sudah selesai.....
"Eiittt, tunggu dulu, istriku..... Rudalku masih keras nih, kudu dibenamkan lagi di liang hangat cinta
kita......"
Edhiaaan, mau berapa kali aku orgasme hari ini..... kuhitung-hitung sudah 12 kali aku menyemburkan
air nonok sedari pagi tadi...
Aku mengambil posisi sederhana, terlentang menantang... biar Mas Har menindihku dari atas.....
Kami bersenggama lagi sebagai hidangan penutup..... dengan "Gaya Sederhana" pria diatas wanita
dibawah, melambangkan kekuatan pria yang melindungi kepasrahan wanita.... Mas Har terus
menggoyang kontolnya maju-mundur. .... Kembali aku akan mencapai puncak lagi, sedang Mas Har
masih terus dengan mantapnya maju-mundur begitu kuat.....
"Mas Har, Mbak Sri sudah mau keluar lagiiiiii... ...", kukejangkan kedua kakiku dan sekujur
tubuhku.....
"Mbak, aku juga mau keluar sekarang.... ..", dalam waktu bersamaan kami saling menyemprotkan dan
memuncratkan cairan kenikmatan kami masing-masing. .....
"Enaaaaaaaaaaakkkkk kk, Mas Haaaaaarrrrrr. ......"
"Puaaaaassssss, Mbak Sriiiiii.... ......"
Mas Har langsung ambruk di atas ketelanjanganku, waktu sudah hampir jam emapat..... semua sendisendiku
masih bergetar semuanya rasanya.....
"Mas, sebentar lagi Ibu pulang, Mbak Sri mau siap-siap dulu ya, sayaang..." Mas Har segera bangkit
sekaligus mencabut kontolnya... . "
ari ini adalah hari yang paling luar-biasa dalam hidupku, Mbak Sriii... Bagaimana aku akan sanggup
melupakannya? "
Kupakai dasterku, kukecup lagi kedua pipi dan bibir Mas Har.... segera aku lari menuju kamarku,
membersihkan air mani Mas Har yang masih menetes dari lubang nonokku yang agak bonyok.....
Kukenakan celana dalam, rok dalam, beha, rok panjang, dan blus berlengan panjang, rambut kusisir
rapi, kusanggul rapi ke atas.... semua ini untuk "mengelabui" Ibu Sumiati dan kedua kakak Mas
Harianto, untuk menutupi sisi lain kehidupanku sebagai seorang Ratu Senggama.
*****
 

53xZone arena Copyright © 2011 | Template design by O Pregador | Powered by Blogger Templates